Secangkir kopi selalu memberi efek magis bagi penikmatnya.
Sebuah stimulan untuk memberi semangat di hari yang melelahkan. Sebuah kedai
kopi bernama La Tazza yang berada di Electronic Center di SCBD, Jakarta,
menghadirkan cita rasa kopi Indonesia dalam balutan racikan modern.
La Tazza sendiri dari Bahasa Italia
yang berarti ”cangkir”. Dalam secangkir kopi yang sederhana ternyata kaya akan
cerita. Heri Setiadi, General Manager La Tazza, pun menunjukkan cerita itu
melalui cupping atau mencicipi dan mengenali kopi
secara blind tasting alias tanpa diberitahu sebelumnya
asal-usul kopi tersebut.
Ya, asal suatu kopi bisa dikenali
hanya dengan bantuan lidah dan hidung. Tentu perlu pengalaman dan keahlian
khusus untuk benar-benar jago mengenali kopi mengandalkan indera perasa dan
penciuman.
Beberapa cangkir kecil berisi kopi
dijejerkan di atas meja. Lalu setiap kopi diseduh dengan air panas dengan suhu
96 derajat. Berikutnya, ditunggu selama sekitar lima menit. Setelah itu mulai
mencicipi kopi. Kopi diseruput dengan cepat agar langsung menyebar terutama di
pangkal lidah.
Acara semakin menarik ketika saya
harus memperkirakan asal masing-masing kopi. Ada sekitar 10 kopi yang
disajikan. Rasa asam yang kuat memudahkan orang untuk menebak Kopi Toraja,
jenis arabika yang memang berciri khas pada rasa asam yang kuat.
Selain kopi Toraja, ada kopi Lintong,
kopi Gayo, kopi Kintamani, kopi Flores, kopi Jawa, hingga kopi Papua. Saat itu,
Heri juga ”iseng” menyuguhkan kopi dari Ethiopia untuk membedakan karakter
aroma,flavor (rasa), acidity (tingkat keasaman), dan aftertaste (rasa tertinggal).
Masing-masing kopi seakan
mencerminkan asal-usul kopi itu berasal. Seperti kopi Kintamani yang selintasan
tercium aroma jeruk dan rasa asam jeruk. Menurut Heri, kopi Kintamani yang ia
sajikan berasal dari kopi yang ditanam berdampingan dengan jeruk.
Heri ingin memperkenalkan kopi
terutama kopi Indonesia kepada siapa pun yang ingin belajar. Oleh karena itu,
La Tazza sendiri sudah beberapa kali menjadi tempat acara cupping bagi beberapa komunitas.
Tak sekadar acara icip-icip, Heri juga tak pelit berbagi ilmu
mengenai kopi. Termasuk karakter kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Selain
itu, ia juga piawai menjelaskan penggunaan alat pembuat kopi. Sehingga,
pengunjung bisa membeli sendiri pembuat kopi dan menggunakannya di rumah.
Di La Tazza dijual pula pembuat kopi berbagai jenis seperti
siphon dan french press. Pengunjung juga bisa membeli biji kopi di tempat ini
dan minta langsung untuk digiling. Sehingga, kopi segar bisa dinikmati setiap
hari di rumah.
Jika mampir di La Tazza, Anda bisa
memesan kopi blend racikan La Tazza yang dibuat dengan mesin espresso. Namun,
bila Anda termasuk penggemar kopi yang ringan, bisa minta dibuatkan dengan
siphon, coffee dripper, ataupun french press.
”Kalau menggunakan siphon, karena
menggunakan air dengan suhu 100 derajat, ada beberapa karakter kopi yang
hilang. Ini brewing (menyeduh) kopi dengan teknik air mendidih,”
jelas Heri.
La Tazza sendiri sudah ada sejak
tahun 2000, jauh sebelum kedai kopi menjadi tren di Jakarta. Kedai pertamanya
ada di Mal Ambassador. Sementara kedai kopi di SCBD buka di tahun 2008 dan
menempati tempat yang lebih luas.
Karena kedai kopi ini berada di
wilayah kantor, cocoklah menjadi penutup di sore hari. Selepas kerja, menikmati
secangkir kopi panas ditemani camilan sederhana seperti pisang goreng. Ya,
walau terkesan ”bule”, La Tazza tetap menyediakan camilan khas Indonesia
seperti pisang goreng. Nikmat...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar